Dalam dunia trading, semakin tajam pergerakan tren, semakin besar momentum yang terjadi. Nah, indikator Change To Range Ratio ini memberikan rasio antara momentum dan jumlah rentang harga bar yang ada. Mari kita lihat rumusnya:
Change To Range Ratio = (close[bar] - close[bar-period]) / Jumlah(high - low)
Indikator ini cukup mirip dengan Range Ratio, namun yang membedakan adalah perhitungan menggunakan selisih harga penutupan. Berikut adalah beberapa keuntungan menggunakan indikator ini:
- Memberikan sinyal yang lebih akurat;
- Mengubah indikator ini menjadi oscilator dengan area jenuh beli dan jenuh jual.
Indikator ini dirancang untuk trading jangka pendek pada timeframe tinggi (H4 dan lebih), dan bekerja dengan baik pada periode 3-5 bar. Jika nilai indikator ini lebih besar dari 0.5, itu menandakan pasar jenuh beli, sehingga sebaiknya Anda menutup posisi long dan tidak membuka posisi baru. Sebaliknya, jika nilainya kurang dari -0.5, Anda harus berhati-hati untuk tidak membuka posisi short, atau jika sudah ada, sebaiknya ditutup.

Tips:
- Saya tidak menyarankan menggunakan indikator ini dengan periode lebih dari 5, karena dirancang untuk sistem jangka pendek. Semakin besar nilai periode, semakin tidak dapat diandalkan sinyal yang dihasilkan.
- Contoh penggunaan sebagai filter: jika Anda mendapatkan sinyal beli pada timeframe H1, tetapi pada chart harian dalam tren naik nilai indikator lebih besar dari 0.5, lebih baik abaikan sinyal tersebut. Dengan kata lain, sebelum masuk pasar, cek nilai Change To Range Ratio pada timeframe yang lebih tinggi.
Postingan terkait
- Panduan Lengkap MetaCOT 2 CFTC ToolBox untuk Analisis COT di MT4
- Indikator Open Range Breakout untuk MetaTrader 5: Strategi Trading yang Efektif
- Master Tools: Alat Indikator untuk MetaTrader 4 yang Harus Dimiliki
- Memprediksi Harga Selanjutnya dengan Jaringan Saraf: Panduan Lengkap untuk Trader
- iSpread: Indikator Spread untuk Pair Trading di MetaTrader 5